Showing posts with label Intelegensi IQ EQ SQ ESQ. Show all posts
Showing posts with label Intelegensi IQ EQ SQ ESQ. Show all posts

Tuesday, May 17, 2011

Tingkat Kecerdasan Otak

Tingkat Kecerdasan Otak

Pada dasarnya dalam kamus besar Bahasa Indonesia Tingkat adalah susunan yang berlapis-lapis atau berlenggok-lenggok seperti lenggek rumah, atau suatu kualitas atau keadaan lebih tinggi atau lebih rendah dalam hubungan dengan titik tertentu (Depdikbud, 1994). Sedangkan Kecerdasan adalah kesempurnaan perkembangan akal budi seperti, kepandaian, ketajaman pikiran. Sejalan dengan itu Binet (dalam (Stein, 2003) menyatakan bahwa kecerdasan adalah sebuah proses terpadu yang melibatkan pertimbangan, pemecahan masalah dan penalaran. Dalam proses pembelajaran siswa di sekolah banyak aspek yang berperan dan ikut memberikan sumbangan terhadap keberhasilan penularan kemampuan yang berupa ilmu pengetahuan yang bersifat teoritis dan ketrampilan yang bersifat praktis.
Kemampuan ilmu pengetahuan berhubungan dengan kemampuan intelegensi atau daya jiwa (ingatan, perasaan, perhatian, minat dan sebagainya). Kemampuan ketrampilan berhubungan dengan aktifitas fisik, melakukan sesuatu atau berbuat sesuatu dengan segala kesadarannya. Tingkat kecerdasan siswa merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Bahri (2000) yang menyatakan bahwa:
“Intelegensi merupakan daya untuk menyesuaikan diri secara mudah dengan keadaan baru dengan menggunakan bahan-bahan pikiran yang ada menurut tujuannya”.
Selanjutnya Whitherington (1984) mengatakan bahwa:
“Seorang dikatakan integensi apabila orang yang bersangkutan mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan cepat, tanpa mengalami masalah”.
Berdasar kedua pendapat di atas, kemampuan untuk menyesuaikan diri merupakan inti dari intelegensi. Sedangkan perbuatan intelegen bercirikan kecepatan, membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu jalannya pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Kemudian Djamarah (2000) mengemukakan bahwa intelegensi merupakan:
a. The ability to meet and adapt to novel situations quickly and effectively.
b. The ability to utilize abstract can cepts effectively
c. The ability to grasp relationship and to quickly
Jadi dapat dipahami intelegensi adalah kemampuan untuk memahami dan beradaptasi dengan situasi yang baru dengan cepat dan efektif, kemampuan untuk menggunakan konsep yang abstrak secara efektif dan kemampuan untuk memahami hubungan dengan cepat.
Untuk mengetahui tingkat kecerdasan (tinggi-rendahnya intelegensi) seseorang, dikembangkan instrumen yang dikenal dengan “Tes Intelegensi” dengan menggunakan pedoman perbandingan tetap antara umur logis dengan umur mental seseorang. Dengan ini intelegensi ditunjukkan dengan perbandingan kecerdasan atau disebut dengan istilah “Intelligence Quotient” yang biasa disebut IQ. IQ adalah ukuran kemampuan intelektual, logika, dan konsep seseorang. Dengan demikian, hal ini berkaitan dengan ketrampilan berbicara, kesadaran akan ruang, kesadaran akan sesuatu yang tampak.
IQ mengukur kecepatan kita untuk mempelajari hal-hal baru, memusatkan perhatian pada aneka tugas dan latihan, menyimpan dan mengingat kembali informasi objektif, terlibat dalam proses berpikir, bekerja dengan angka, berpikir abstrak dan analitis, serta memecahkan permasalahan dengan menerapkan pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Jika IQ kita tinggi, angka rata-ratanya 100, kita memiliki modal yang sangat baik untuk lulus dari semua jenis ujian dengan gemilang, dan (bukan kebetulan) meraih nilai yang baik dalam ujian. Sejalan dengan pengertian di atas Salovey dan Mayer (dalam Stein, 2003) menyatakan:
“IQ adalah kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya, mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual”.
Berhubungan dengan intelegensi ini, dampak perkembangan selanjutnya banyak para ahli membuat klasifikasi intelegensi manusia. Gairison (dalam Azwar, 1996) mengklasifikasikan tingkat kecerdasan pada Tabel 2.1. Sedangkan Wart dan Marquis (1995) telah mengemukakan klasifikasi intelegensi pada tabel berikut:

Tabel 1. Distribusi IQ untuk Kelompok Standarisasi Tes Binet

IQ

Presentasse

Klasifikasi

1

2

3

160-169

0,03

Sangat superior

150-139

0,20

140-149

1,10

130-139

3,10

Superior

120-129

8,20

110-119

18,10

Rata-rata tinggi

100-109

23,50

Rata-rata/normal

90-99

13,00

80-89

14,50

Rata-rata rendah

70-79

5,60

Batas lemah

60-69

2,00

Lemah mental

50-59

0,40

40-49

0,20

30-39

0,03

Sumber: Gairison (dalam Azwar 1996).

Tabel 2. Distribusi IQ untuk Kelompok Standarisasi Tes Baylley

Kelas Interval Skor IQ

Klasifikasi

140 – ke atas

Genius (luar biasa)

110 – 139

Very superior (amat cerdas)

110 – 119

Superior (cerdas)

90 – 109

Normal (overage)

80 – 89

Dull (bodoh)

70 – 79

Border line (batas potensi)

50 – 69

Morrons (debiel)

30 – 49

Embicile (embisil)

Di bawah 30

Idiot

Sumber: Sumanto (1994)

Melihat data hasil intelegensi, kita dapat menggunakan tabel klasifikasi di atas sebagai acuan dasar untuk mengetahui tingkat kecerdasan siswa, selanjutnya dapat mengelompokkan kemampuan intelegensi siswa sebagai data penelitian. Meskipun masih ada beberapa psikolog meragukan hasil tes intelegensi karena memandang alat tes atau alat ukur yang digunakan untuk mengetahui IQ seseorang belum cermat, maksudnya tes untuk mengukur intelegensi akademik dan tes untuk mengukur intelegensi praktis seharusnya menggunakan alat ukur yang berbeda. Namun hasil tes itu cukup untuk memberikan gambaran pada kita kemampuan IQ siswa, ditinjau dari segi kemampuan akademik saat ini.
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa tingkat intelegensi siswa yang satu dengan siswa yang lain berbeda-beda. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi intelegensi seseorang sehingga terdapat perbedaan intelegensi seseorang dengan yang lain adalah:
a. Pembawaan, yaitu sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir, kenyataan menunjukkan ada siswa yang pintar dan ada siswa yang bodoh, meskipun menerima pelajaran yang sama.
b. Kematangan, yaitu kematangan yang berupa fisik maupun psikis, dapat dikatakan matang jika telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsi masing-masing.
c. Pembentukan, ialah segala keadaan di luar diri siswa yang mempengaruhi perkembangan intelegensinya, disengaja atau tidak.
d. Minat dan pembawaan yang leka, yakni dorongan-dorongan yang menuntun manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar.
e. Kebebasan, artinya manusia bebas memilih metode atau bebas memilih masalah sesuai dengan kebutuhan (Ngalim, 1990).
Dengan demikian kita sebagai pendidik bisa menyadari akan adanya perbedaan-perbedaan tersebut dan dapat memilih metode-metode yang tepat dalam menyampaikan pelajaran. Semua faktor di atas bersangkut paut menjadi satu. Untuk menentukan seseorang berintelegen atau tidak, tidak bisa berpedoman pada salah satu faktor saja, sebab intelegensi adalah faktor total. Dari batasan-batasan yang dikemukakan di atas dapat diketahui bahwa:
a. Intelegensi adalah merupakan faktor total, menyangkut berbagai macam daya jiwa yang erat.
b. Intelegensi hanya dapat diketahui dari tingkah laku atau perbuatan yang nampak melalui “kelakuan intelegensinya”.
c. Intelegensi bukan hanya kemampuan yang dibawa sejak lahir saja, tetapi faktor lingkungan dan faktor pendidikan ikut berperan.
d. Bahwa manusia itu dalam kehidupannya senantiasa dapat menentukan tujuan-tujuan yang baru dan dapat memikirkan dan menggunakan cara-cara untuk mencapainya.


Ditulis oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
http://kabar-pendidikan.blogspot.com

Teori Dasar Intelegensi

Teori Dasar Intelegensi

Intelegensi didefinisikan sebagai kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan atau belajar dari pengalaman. Garret (1990) mendefinisikan intelegensi adalah kemampuan yang diperlukan untuk pemecahan masalah dengan menggunakan simbol-simbol. Wasty (1990) menyatakan bahwa “intelegensi ialah kemampuan untuk memecahkan segala jenis masalah”. Sedangkan Heindenrich dalam Wasty (1990) menyatakan bahwa intelegensi adalah kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal atau dalam pemecahan masalah-masalah.
Pendapat lain menyatakan intelegensi adalah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuannya Ngalim (1997). Dari beberapa pendapat diatas. intelegensi dapat diartikan sebagai kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif .

Teori Dasar Intelegensi
Beberapa pendapat yang mendasari tentang pengertian intelegensi secara detail, akan dipaparkan sebagai berikut:
a. Teori Uni Faktor atau Teori Kapasitas Umum
Teori William Stern ini hanya berisi satu faktor, yaitu kapasitas umum (G). G yang dimiliki secara natural dapat memecahkan multi problem. Semua orang lahir dengan jumlah G yang berbeda, dan lingkungan seseorang akan menentukan aktivitas yang dianggapnya paling baik (Hendyat, 2002).
b. Teori Dua Faktor
Teori Charles Spearman ini berisi dua faktor,yaitu kapastias umum (g) yang berfungsi dalam setiap tingkah laku mental individu dan intelegensi khusus (s) menentukan tindakan-tindakan mental untuk mengatasi permasalahan. Orang yang memiliki jumlah serta jenis faktor G yang luas akan memiliki kapasatas untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan (Wasty, 1990).
c. Teori Sampling
Menurut teori Godfrey H. Thomson ini, intelegensi merupakan berbagai kemampuan sampel. Manusia menguasai berbagai bidang pengalaman, masing-masing bidang hanya dapat dikuasai sebagian saja, dan ini mencerminkan kemampuan mental manusia yang terbatas (Wasty, 1990).
d. Teori Kemampuan Mental Primer atau Teori Multi Faktor
Thurstone (dalam Hidayat, 2002) menyebutkan bahwa faktor-faktor intelegensi sebagai kemampuan mental primer yang terdiri atas kemampuan: verbal, numerikal, ruang, memori, penalaran, penguasaan kata, dan kecepatan perseptual. Masing-masing faktor diuraikan sebagai berikut:
1) Verbal, yaitu kemampuan yang menyangkut pengertian terhadap ide-ide yang diekspresikan dalam bentuk kata.
2) Numerikal, yaitu kemampuan yang digunakan seseorang apabila menambahkan, mengurangkan, mengalikan dan membagi angka-angka.
3) Ruang, kemampuan ini berkaitan dengan ketepatan menafsirkan ukuran terhadap obyek sesuai dengan perbandingan dimensinya.
4) Memori, kemampuan kecakapan memproduksi pengalaman masa lalu dalam proses mental.
5) Penalaran, yaitu kecakapan mengadakan analisa terhadap obyek pikir yang terjadi melalui proses mental.
6) Penguasaan kata, kemampuan untuk dapat berbicara dan membaca dengan mudah.
7) Kecepatan perseptual, kemampuan untuk mengambil kesan sesaat terhadap obyek pada saat seseorang mengadakan pengamatan.
Intelegensi seseorang dapat berkembang dengan baik, apabila dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
a. Pembawaan, yaitu faktor yang ditentukan oleh sifat-sfiat yang dibawa sejak lahir.
b. Kematangan, yaitu faktor yang berhubungan erat dengan umur.
c. Pembentukan, yaitu segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi.
d. Minat, yaitu faktor yang mengarahkan perbuatan kepada tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu.
e. Kebebasan, yaitu faktor yang membuat manusia dapat memilih cara-cara tertentu dalam memecahkan masalah.
Kelima faktor tersebut diatas saling terkait didalam menentukan intelegen atau tidaknya seseorang. Sehingga kita tidak dapat hanya berpedoman pada salah satu faktor saja, melainkan pada keseluruhan faktor dalam menentukan perbuatan intelegen seseorang.
Hendyat (2002) mengemukakan bahwa pengukuran intelegensi dapat dilakukan dengan cara melakukan tes intelegensi yaitu untuk mengukur kemampuan terutama tingkah laku yang diharapkan pada saat tes itu dibuat dan laksanakan. Pengukuran intelegensi pertama kali dilakukan oleh Binet dan Simon, dikenal dengan nama tes Binet-Simon. Pada tes ini memperhatikan dua hal, yaitu:
a. Umur kronologis (cronologis age disingkat CA), yaitu umur seseorang yang ditunjukkan dengan kelahirannya.
b. Umur mental (mental age disingkat MA) yaitu umur kecerdasan yang ditunjukkan oleh hasil tes kemampuan akademik.
Untuk mengukur tingkat intelegensi (Intelegence Quotien disingkat IQ) ditunjukkan dengan perbandingan umur mental dengan umur kronologis. Perbandingan kecerdasan ini secara matematis dapat dituliskan:
IQ = MA/CA
Untuk memudahkan perhitungan, orang mengalikannya dengan 100% dan kemudian meniadakan %-nya. Sehingga didapat rumus:
IQ = MA/CA x 100
Penilaian atau skor tes diperoleh dari hasil pengerjaan tes pada periode tertentu. Dan skor tes hanyalah menggambarkan keadaan sesuai dengan lingkup materi yang dimasukkan dalam tes itu.
Berpijak dari pengertian intelegensi diatas, maka jelaslah bahwa intelegensi sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan belajar siswa. Hendyat (2002) mengemukakan bahwa pada umumnya skor tes intelegensi memiliki korelasi yang tinggi dengan prestasi akademik di sekolah. Pendapat di atas dibenarkan oleh Wasty (1990) dari hasil penelitiannya, bahwa IQ seseorang berhubungan dengan tingkat pendidikannya.
Semakin tinggi pendidikan seseorang semakin tinggi pula skor IQnya. Meskipun intelegensi bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya siswa dalam belajar, namun pendapat-pendapat serta hasil penelitian tersebut di atas cukup untuk menunjukkan bahwa intelegensi berpengaruh terhadap prestasi siswa.


Ditulis oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
http://kabar-pendidikan.blogspot.com

Tuesday, May 3, 2011

Metode Pengukuran Intelegensi


Metode yang dipergunakan untuk mengukur suatu intelegensi seseorang adalah metode tes yang disebut mengemukakan, bahwa penggunaan tes IQ ini dimaksudkan untuk memperkirakan atau menilai kapasitas seseorang untuk belajar (Witherington, 1982) dan hasil tes intelegensi dapat digunakan untuk memprediksi hasil belajar. Dalam penelitian ini pengukuran IQ dilakukan dengan menggunakan tes Progressive Matrices (PM). Tes PM merupakan tes sangat populer dalam pengukuran intelegensi. Tes ini kemudian dikembangkan oleh Raven dari Inggris pada tahun 1938. Item-item tes PM digambarkan sebagai berikut ini (Nurkancana, 1983).

Dalam membuat rumus pengukuran intelegensi Binet menggunakan pedoman selisih tetap umur mental (mental age) selanjutnya disingkat MA dengan unsur kronologis (“chronological age” selanjutnya disingkat CA). Individu dinyatakan normal jika selisih MA dan CA sebesar 3 tahun. Tetapi cara ini kemudian diperbaiki lagi tahun 1911 dengan menggunakan perbandingan tetap antara umur kronologis dengan umur mental. Dengan demikian tingkat intelegensi ditunjukkan dengan perbandingan kecerdasan yang disebut dengan istilah Intelegensi Quotient yang biasa disingkat IQ. Oleh karena itu IQ dapat dirumuskan sebagai IQ = MA/CA (Soemanto, 1984). Hasil yang diperoleh dari rumus diatas sering memberikan bilangan pecahan. Kemudian Terman pada tahun 1911 mengalikannya dengan 100 sehingga diperoleh bilangan bulat. Dengan demikian rumus IQ = MA/Ca x 100.

Pada lingkungan sekolah, tujuan pengukuran psikologis dimaksudkan untuk mengetahui kecerdasan umum dan bakat penjurusan Fisika, Biologi, Sosial dan Budaya. Sedangkan aspek yang diungkapkan meliputi berikut ini:














Gambar 1. Contoh tes Progressive Matrices

a. Kecerdasan umum :
Mengungkapkan kemampuan berfikir dan memecahkan masalah secara umum.
b. Bakat
1. Logical Verbal : Mengungkapkan kemampuan berfikir untuk memahami dan memecahkan masalah secara logis dengan menggunakan bahas.
2. Arithematic : mengungkapkan kemampuan berfikir yang berhubungan dengan angka dan memperhitungkan secara cepat dan tepat hal-hal yang bersifat kuantitatif.
3. Pandang ruang : mengungkapkan kemampuan berfikir untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan pandang ruang dan mengimajinasikan bentuk akhir suatu obyek dari rancangan yang sudah ditentukan.
4. Mechanical : mengungkapkan kemampuan berfikir untuk masalah yang berhubungan dengan prinsip dasar dan gerakan-gerakan mekanis.
5. Penalaran : mengungkapkan kemampuan berfikir untuk memecahkan masalah yang bersifat abstrak dan hubungan antara dua hal dengan mempergunakan tanda-tanda yang tidak terkait oleh bahasa.
6. Dasar ilmu pasti : mengungkapkan kemampuan berfikir untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan persamaan dan perbedaan antara obyek-obyek atau simbol-simbol secara tepat dan teliti.


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com http://grosirlaptop.blogspot.com

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Intelegensi

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Intelegensi


Intelegensi memainkan peranan yang sangat besar khususnya pengaruh terhadap tinggi rendahnya prestasi yang dicapai oleh peserta didik di lembaga pendidikan. Kenyataan ini semakin nampak dalam prestasi pada bidang ilmu yang menuntut banyak berpikir, salah satunya adalah bidang matematika. Meskipun peranan intelegensi semakin besar namun faktor-faktor yang lain tetap berpengaruh juga. Maka kita tidak boleh mengatakan bahwa prestasi disekolah kurang, pastilah karena taraf intelegensinya juga kurang (Winkel, 1984).

Mengenai intelegensi Slameto (1987) juga berpendapat bahwa intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar, intelegensi siswa akan membantu pengajar menentukan apakah siswa mampu mengikuti pelajaran yang telah diberikan. Meskipun begitu prestasi siswa tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat kemampuan intelektual yang dimiliki sikap. Faktor-faktor lain motivasi, sikap, kesehatan fisik, kesehatan mental dan sebagainya perlu dipertimbangkan (Slameto, 1987).

Perbedaan individu dalam tingkat kecerdasan atau intelegensi ditunjukkan dari hasil tes IQ. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi sehingga terdapat perbedaan intelegensi seseorang dengan yang lain adalah: a) Pembawaan yang ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri yang dapat dibawa sejak lahir; b) Kematangan yaitu tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. c) Minat dan pembawaan yang khas, minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan yang merupakan dorongan bagi perbuatan itu. d) Pembentukan yaitu segala keadaan luar diri seseorang yang mempengaruhi intelegensi. Dapat dibedakan pembentukan sengaja (seperti dilakukan di sekolah-sekolah). e) Kebebasan yang berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode tertentu dalam memecahkan masalah. Manusia mempunyai kebebasan sesuai dengan kebutuhan.

Dijelaskan lebih lanjut semua faktor tersebut bersangkut paut satu sama lain. Untuk menentukan intelegensi seorang anak tidak dapat hanya berpedoman pada salah satu faktor tersebut diatas karena intelegensi merupakan hal yang menyeluruh. Keseluruhan pribadi dan lingkungannya ikut menentukan perbuatan seseorang (Purwanto, 1988).


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com http://grosirlaptop.blogspot.com

Pengertian Intelegensi

Pengertian Intelegensi

Sadli (1986) mendefinisikan intelegensi yang hampir sama dengan pendapat Bischof, yaitu intelegensi merupakan keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah, serta mengolah menguasai lingkungan secara efektif. Pendapat lain dikemukakan oleh Soemanto (1984) bahwa intelegensi adalah kesempurnaan perbuatan kecekatan kegiatan yang efisien. Dengan kata lain intelegensi menunjukkan suatu kualitas perbuatan atau tingkah laku individu. Kualitas dalam hal ini menyatakan kecepatan, kemudahan serta ketepatan dalam melakukan perbuatan atau tindakan.

Intelegensi berkaitan dengan kecakapan untuk belajar dan memanfaatkan apa yang dipelajari dalam usaha menyesuaikan diri dengan situasi-situasi yang kurang dikenal atau dalam pemecahan masalah. Belajar matematika sebagaimana dikemukakan oleh Dienes (dalam Hadejo, 1979) melibatkan struktur hirarki dari konsep-konsep tingkat lebih tinggi yang dibentuk atas dasar apa yang telah dibentuk sebelumnya, dimana suatu konsep matematika tidak mungkin dikuasai dengan sempurna kalau konsep yang melandasinya belum dipahami.

Dari beberapa pengertian intelegensi yang telah diuraikan diatas dapat dikatakan bahwa intelegensi merupakan kemampuan dasar seseorang untuk belajar dari pengalaman guna menyesuaikan dengan situasi yang dihadapi dengan cepat, tepat dan efektif. Seseorang yang memiliki intelegensi yang lebih tinggi akan mampu berbuat lebih banyak dengan usaha yang relatif lebih sedikit daripada orang yang intelegensinya lebih rendah.

Dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar seseorang yang memiliki intelegensi lebih tinggi diharapkan mampu belajar lebih banyak, mampu menyesuaikan tugas-tugas belajarnya lebih cepat daripada orang yang memiliki intelegensi yang lebih rendah. Sedangkan menurut Purwanto (1988) intelegensi yang rendah menghambat usaha seseorang untuk maju dan berkembang, meskipun orang itu ulet dan tekun dalam usahanya.


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com http://grosirlaptop.blogspot.com