Showing posts with label Perilaku. Show all posts
Showing posts with label Perilaku. Show all posts

Tuesday, May 17, 2011

Hakikat Disiplin Kerja

Hakikat Disiplin Kerja

Dalam kaitannya dengan motivasi, maka disilin kerja juga berperan penting bagi peningkatan kinerja para pegawai. Disiplin secara etimologis mengandung makna akan ketaatan terhadap norma, ketentuan dan kaidah yang berlaku dalam organisasi. Kedisiplinan sebenarnya erat kaitannya dengan motivasi, karena pegawai akan disiplin apabila motivasi mereka tinggi. Sebaliknya, disiplin akan rendah apabila motivasi juga rendah. Dengan demikian, disiplin dan motivasi merupakan dua elemen penting dalam peningkatan kinerja.
Di samping itu juga disiplin mempunyai peran sentral dalam membentuk pola kerja dan etos kerja yang produktif. Menurut Sinungan Muchdarsyah (2009) disiplin didefinisikan secara berbeda-beda. Dari sejumlah pendapat disiplin dapat disarikan ke dalam beberapa pengertian sebagai berikut:
1. Kata disiplin dari segi (terminologis) berasal dari kata latin “discipline” yang berarti pengajaran, latihan dan sebagainya (berawal dati kata discipulus yaitu seorang yang belajar). Jadi secara etimologis terdapat hubungan pengertian antara discipline dengan disciple.
2. Latihan yang mengembangkan pengendalian diri, watak atau ketertiban dan efisiensi.
3. Kepatuhan atau ketaatan (obedience) terhadap ketentuan dan peraturan pemerintah atau etik, norma dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat.
4. Penghukuman (punishment) yang dilakukan melalui koreksi dan latihan untuk mencapai perilaku yang dikendalikan (control behavior).
Disiplin bisa mendorong produktivitas kerja atau disiplin merupakan sarana yang penting untuk mencapai produktivitas kerja para pegawai dalam birokrasi (Ambar Teguh Sulistiyani, 2008).
Dalam rumusan-rumusan tersebut di atas dapat dirumuskan bahwa disiplin adalah sikap mental yang tercermin dalam perbuatan atau tingkah laku perorangan, kelompok, atau masyarakat yang berupa ketaatan (obedience) terhadap peraturan yang ditetapkan pemerintah atau etik, norma dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat untuk tujuan tertentu. Disiplin dapat pula diartikan sebagai pengendalian diri agar tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan falsafah suatu bangsa/negara.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin mengacu pada pola tingkah laku dan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Adanya hasrat yang kuat untuk melaksanakan sepenuhnya apa yang dahulu menjadi norma, etik dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat.
b. Adanya perilaku yang dikendalikan.
c. Adanya ketaatan (obedience).
Dari ciri-ciri pola tingkah laku pribadi disiplin, jelaslah bahwa disiplin membutuhkan pengorbanan, baik itu perasaan, waktu, kenikmatan, dan lain-lain. Disiplin bukanlah tujuan, melainkan sarana yang ikut memainkan peranan dalam pencapaian tujuan.
Kedisiplinan merupakan faktor yang berasal dari dalam diri guru yang dapat mempengaruhi pencapaian kinerja guru. Dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi diharapkan guru dapat memperoleh prestasi yang optimal. Dengan disiplin kerja yang baik akan dapat mendorong guru meraih prestasi kerja yang optimal. Semakin tinggi tingkat kedisiplinan guru, maka akan semakin baik prestasi kerja yang diraihnya.
Sikap disiplin merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap guru. Sikap disiplin guru dapat tumbuh dan berkembang dengan melakukan latihan-latihan yang dapat memperkuat diri sendiri dengan jalan membiasakn diri untuk patuh pada peraturan-peraturan yang ada. Dengan membiasakan diri untuk berdisiplin lambat laun akan tumbuh kesadaran pada diri siswa untuk selalu mematuhi segala peraturan yang ada, dan sikap disiplin yang tumbuh dari kesadaran dalam diri guru akan dapat bertahan lama dan bahkan dapat melekat dalam diri guru yang terwujud dalam setiap tingkah laku dan perbuatannya dalam sepanjang hidupnya.


Ditulis oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
http://kabar-pendidikan.blogspot.com
Pengertian dan Hakikat Disiplin

Pengertian dan Hakikat Disiplin

Disiplin (Siagian, 1998) merupakan tindakan manajemen untuk mendorong para anggota organisasi memenuhi berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi oleh para anggota organisasi. Dengan demikian pendisiplinan pegawai adalah suatu bentuk pelatihan yang berusaha memperbaiki dan membentuk pengetahuan, sikap, dan perilaku pegawai sehingga para pegawai tersebut secara sukarela berusaha bekerja secara kooperatif dengan para pegawai yang lain serta meningkatkan prestasi kerjanya.
Dalam suatu organisasi sesederhana apapun berikutnya, terdapat dua jenis disiplin, yaitu disiplin yang bersifat preventif maupun yang bersifat korekatif. Demikian pula bentuk pendisiplinan pun dalam organisasi mencakup pendisiplinan preventif dan pendisiplinan korektif. Pendisiplinan preventif merupakan bentuk pendisiplinan yang bersifat tindakan yang mendorong para bawahan untuk taat pada berbagai ketentuan yang berlaku dan memenuhi standar yang telah ditetapkan. Sedangkan pendisiplinan korektif lebih ditujukan kepada pemberian sanksi kepada bawahan atas sejumlah pelanggaran yang telah dilakukannya.
Dengan kejelasan dan penjelasan tentang pola sikap, tindakan, dan perilaku yang diinginkan dari setiap anggota organisasi maka diusahakan pencegahan pelanggaran, dan jangan sampai para pegawai berperilaku negatif.
Keberhasilan penerapan pendisiplinan preventif ini, terletak pada disiplin pribadi para anggota organisasi. Disiplin pribadi ini agar semakin kekal, sedikit nya diperlukan tiga hal yang perlu mendapat perhatian manajemen. Pertama, para anggota organisasi perlu didorong agar mempunyai rasa memiliki organisasi. Hal ini berarti, perlu ditanamkan perasaan kuat bahwa keberadaan mereka dalam organisasi bukan hanya sekedar mencari nafkah dan bahwa mereka adalah anggota keluarga besar organisasi yang bersangkutan. Kedua, para bawahan perlu diberi penjelasan tentang berbagai ketentuan yang wajib ditaati, dan standar yang harus dipenuhi. Ketiga, para bawahan didorong untuk menentukan sendiri cara-cara pendisiplinan diri dalam kerangka ketentuan-ketentuan yang belaku umum bagi seluruh anggota organisasi.
Disiplin, dikembangkan melalui human relations, motivations, renumeration (penghargaan dan hukuman), serta communication yang efektif sehingga tidak timbul salah paham. Penegak disiplin dalam suatu organisasi merupakan sesuatu yang mutlak harus dilaksanakan,demi peningkatan kinerja organisasi. Dengan demikian disiplin adalah penggunaan beberapa bentuk hukuman atau sanksi apabila bawahan menyimpang dari aturan (Gibson, 1996).
Hasibuan (2000) berpendapat bahwa kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan dan peraturan-peraturan yang berlaku. Kesadaran adalah sikap seseorang secara sukarela menaati semua peraturan dan sadar akan tugas dan tanggung jawabnya, sehingga dia akan mematuhi/mengerjakan semua tugasnya dengan baik, bukan atas paksaan. Kesediaan adalah suatu sikap, tingkah laku, dan perbuatan seseorang yang sesuai dengan peraturan baik yang tertulis maupun tidak. Sehingga seseorang akan bersedia mematuhi semua peraturan serta melaksanakan tugas-tugasnya secara sukarela maupun terpaksa. Kedisiplinan diartikan jika pegawai selalu datang dan pulang tepat waktunya, mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik, mematuhi semua peraturan dan norma-norma sosial yang berlaku. Dalam menegakkan kedisiplinan, peraturan sangat diperlukan untuk memberikan bimbingan dan penyuluhan bagi pegawai dalam menciptakan tata tertib yang baik dalam organisasi. Dengan tata tertib yang baik, semangat kerja, moral kerja, efisiensi dan efektivitas kerja pegawai akan meningkat. Hal ini akan mendukung tercapainya tujuan organisasi. Jelasnya organisasi akan sulit mencapai tujuannya, jika pegawai tidak mematuhi peraturan-peraturan tersebut.
Siagian (1998) menyebutkan bahwa agar upaya pendisiplinan di kalangan pegawai dapat tercapai, maka sanksi pendisiplinan harus diterapkan secara bertahap. Pendisiplinan secara bertahap yaitu dengan mengambil langkah yang bersifat sanksi pendisiplinan, mulai dari yang tingkat ringan hingga yang terberat misalnya:
a) peringatan lisan;
b) pernyataan tertulis perihal ketidakpuasan oleh atasan langsung;
c) penundaan gaji berkala;
d) penundaan kenaikan pangkat;
e) pembebasan dari jabatan;
f) pemberhentian sementara;
g) pemberhentian atas permintaan sendiri;
h) pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri; dan
i) pemberhentian tidak dengan hormat.
Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 mengatur dengan jelas kewajiban-kewajiban yang harus ditaati dan larangan yang tidak boleh dilanggar oleh setiap pegawai negeri. Hal ini merupakan bukti disiplin yang ditanamkan kepada setiap pegawai.
Pendisiplinan pegawai menurut Timpe (1999) yang merangkum pendapat Cameron yaitu dengan sanksi-sanksi yang dilaksanakan bagi para pelanggar aturan secara bertahap tersebut, pada prinsipnya bertujuan untuk memperingatkan pegawai dengan jelas tentang perilaku yang diharuskan dan akibat-akibat pelanggaran yang terus berlanjut.
Sanksi-sanksi disiplin berbentuk simbolis, yang berfungsi sebagai tolak ukur untuk menunjukkan tingkat keseriusan pelanggaran yang dipandang manajemen dan untuk menunjukkan di mana posisi bawahan pada rangkaian disiplin itu. Tujuan dari adanya sanksi disiplin ini adalah koreksi, yaitu dengan adanya tahap peringatan yang jelas tentang apa yang diperlukan dan akibat-akibat ketidakpatuhan. Jika digunakan sistem progresif yang demikian, para arbiter akan mengevaluasi sanksi terhadap norma arbitrasi untuk menentukan keadilan sistem disiplin. Sanksi-sanksi harus diberikan secara progresif. Tindakan disiplin awal adalah tepat bagi pelanggaran dan pelanggaran yang lebih tinggi tingkatannya akan menghasilkan pula sanksi-sanksi yang lebih tinggi pula. Namun demikian, pendisiplinan bawahan memerlukan sikap manajemen yang tepat. karena masalah disiplin adalah masalah kepegawaian yang saling terkait.
Manajemen perlu mengingat, bahwa mereka tidak dapat membuat seseorang bekerja dengan efektif. Hanya pegawai/bawahan yang dapat membuat hal itu terjadi. Para bawahan harus memahami bahwa sebagai hasil pelanggarannya, dia telah berada pada suatu jalan menuju ke sanksi tertentu, sesuai dengan bobot pelanggarannya. Interaksi antara pendisiplinan bawahan ini menjelaskan bahwa disiplin bukan untuk bawahan tertentu saja, tetapi setiap bawahan dalam keadaan yang sama, akan diperlakukan dengan cara yang sama pula. Pembinaan disiplin pegawai sebagai bentuk pembinaan sikap terhadap bawahan adalah suatu bentuk upaya yang sinkron dengan keinginan dari pemimpin untuk menyelesaikan masalah secara bersama-sama dengan cara yang positif. Tujuan utama dari tindakan pendisiplinan adalah memastikan bahwa perilaku bawahan telah konsisten dengan peraturan organisasi.
Faktor-faktor yang umum mempengaruhi disiplin bawahan, meliputi dimensi individu (kemampuan, persepsi, motif, sasaran, kebutuhan, dan nilai); suasana motivasi dan kompensasi; dimensi kelompok (status, norma, keeratan, dan komunikasi); dan struktur organisasi (termasuk unsur-unsur makro dalam pengendalian dan pencemaran).
Prestasi kerja mempengaruhi sasaran-sasaran organisasi dan individu. Prestasi kerja bawahan yang produktif, memberikan sasaran dan umumnya tidak memerlukan surat peringatan atau disiplin. Dan sebaliknya, prestasi kerja bawahan yang tidak produktif berasal dari sasaran-sasaran organisasi dan individu yang tidak terpenuhi.
Selanjutnya Timpe (1999) merangkum pendapat yang dikemukakan oleh Richard Discenza dan Howard I. Smith menyebutkan bahwa ada beberapa prinsip yang dikenali secara konsisten membentuk dasar-dasar organisasi dalam program disiplin bawahan yang baik.
Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1) Komunikasi standar
Kebijakan-kebijakan, standar dan prosedur-prosedur disiplin lama, dibuat secara tertulis dan dikomunikasikan kepada para bawahan.
2) Mengumpulkan fakta-fakta
Para pimpinan mengumpulkan data-data faktual jika suatu pelanggaran terjadi. Jika tindakan disiplin tertantang, beban pembuktian terletak pada pimpinan untuk memperlihatkan bahwa ada penyebab terhadap perlakuan yang demikian.
3) Konsistensi
Disiplin harus diimplementasikan secara konsisten. Jika tidak akan muncul keraguan terhadap situasi di antara pegawai. Para pimpinan harus menerapkan tindakan disiplin yang sama dalam keadaan-keadaan yang serupa.
4) Ketepatan waktu
Hukuman disiplin harus diterapkan secepat mungkin setelah terjadi suatu pelanggaran. Namun demikian, dalam keadaan dimana emosi sangat mudah meledak, maka penerapan terhadap prinsip ini dapat sedikit diperlonggar.
5) Keadilan
Tindakan disiplin harus diterapkan dengan adil, sesuai dengan standar yang telah dilanggar. Pimpinan harus mampu memperlakukan bawahan dengan adil, jika program disiplin ingin berhasil. Penerapan-penerapan disiplin yang tidak adil akan merusak kinerja dan kepuasan kerja pegawai.
6) Tindakan positif
Disiplin harus berorientasi pada tindakan korektif dan positif. Jika mungkin disiplin harus memberi kesempatan bagi bawahan untuk memperbaiki kinerjanya.
7) Pelaksanaan
Batasan sejauhmana setiap prinsip sepenuhnya dilaksanakan dalam sebuah organisasi mungkin beragam dari tinggi ke rendah, tergantung pada pandangan yang diberikan pelaksana program disiplin.
Semua prinsip yang mengatur disiplin bawahan dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian program yang dibuat dengan baik, yaitu apabila para bawahan memperoleh penjelasan-penjelasan kebijakan dan peraturan disiplin dengan jelas dan ringkas.
Organisasi dan perilaku adalah dimensi yang sangat penting di dalam mencapai program disiplin yang efektif. Bidang disiplin harus digabungkan dengan konsep-konsep manajemen yang terbentuk dengan lebih baik agar kinerja bawahan memenuhi kebutuhan organisasi.
Teori dan praktek disiplin dalam suatu organisasi, dapat diperluas di masa depan. Dalam membimbing upaya baru dalam bidang ini, beberapa pengarahan baru bagi disiplin yang dapat dikenali, adalah sebagai berikut (Timpe, 1999:434-435).
a. Teori-teori motivasi dan praktek manajemen agar lebih menekankan interaksi pada disiplin. Penekanan harus diberikan pada perpaduan antara motivasi dengan disiplin. Setelah sintesis ini dicapai, maka analisis lebih jauh dilakukan tentang pengaruh motivasi dan disiplin terhadap kepuasan kerja.
b. Suatu penelitian harus memastikan apakah ukuran organisasi, lingkungannya, struktur dan variabel-variabel kontekstual lain perlu dimasukkan dalam model-model disiplin.
c. Penelitian dapat mempelajari variabel-variabel proses disiplin, seperti intensitas hukuman atau jarak waktu hukuman terhadap pelanggaran. Hal ini untuk memperjelas pengaruh mereka dalam mengendalikan dan mencegah masalah-masalah di masa yang akan datang.
d. Frekuensi perilaku organisasi yang tidak diinginkan (mangkir, mencuri, dan sebagainya) sebagai variabel yang moderat bebas dari kemampuan untuk mencapai disiplin yang efektif harus dibuat dengan jelas.
e. Analisis variabel kepribadian para pemimpin seperti agresi, dominasi, dan otonomi memperlihatkan gaya disiplin dengan nilai yang relatif tinggi.
f. Pemeriksaan disiplin masa depan, meliputi penelitian masalah-masalah moral dalam penerapan disiplin. Falsafah yang mendasari disiplin adalah pengendalian individu.
g. Frekuensi perilaku yang tidak diinginkan dari orang-orang yang sebelumnya tidak dikenakan tindakan disiplin sama seperti bawahan lainnya.
Program disiplin yang efektif akan berpengaruh kuat terhadap pelaksanaan pekerjaan yang telah tersusun dalam suatu jaringan kerja (network). Ketepatan penyelesaian salah satu pekerjaan menjadi prasyarat bagi kegiatan berikutnya, dan sebaliknya keterlambatan pada salah satu kegiatan akan mengganggu kegiatan lain. Dengan cara yang demikian, maka segala aktivitas yang dilaksanakan dapat terselenggara dengan teratur dan tertib sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Adanya disiplin yang tinggi dalam jaringan kerja akan mempermudah para pegawai dalam menyusun rencana kerja yang pasti, dan semua aktivitas dapat terlaksana dengan pasti pula. Disiplin sangat diperlukan bagi setiap organisasi agar kinerja pegawai memiliki kontribusi kuat pada kinerja organisasi.
Dari uraian di atas, maka pengertian disiplin yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sikap atau tingkah laku seorang guru yang mencerminkan tingkat kepatuhan dan ketaatannya pada berbagai ketentuan yang berlaku, dan tindakan korektif terhadap pelanggaran atas ketentuan atau standar yang telah ditetapkan.
Disiplin merupakan tingkatan loyalitas seorang pegawai atau staf selaku bawahan yang dilandasi adanya kesadaran dan tanggung jawab terhadap tugas dan tanggung jawabnya secara rasional, cermat, dan tertib. Disiplin ini akan lebih memantapkan networking (jaringan kerja) organisasi. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa disiplin sangat berpengaruh terhadap kualitas pencapaian tujuan organisasi.
Sedangkan kedisiplinan guru, menurut Buku Petunjuk Pengendalian Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar, Depdikbud, 1995/1996 dapat diuraikan sebagai berikut:
a) Hadir di sekolah 15 menit sebelum pelajaran dimulai dan pulang setelah jam pelajaran selesai.
b) Menandatangani daftar hadir.
c) Mengatur siswa yang akan masuk kelas dengan berbasis secara teratur.
d) Hadir dan meninggalkan kelas tepat waktu.
e) Melaksanakan semua tugasnya secara tertib dan teratur.
f) Membuat program semester.
g) Membuat persiapan mengajar sebelum mengajar.
h) Mengikuti upcara hari besar agama/nasional dan acara lainnya yang diadakan oleh sekolah.
i) Memeriksa setiap pekerjaan siswa atau latihan siswa serta mengembalikan kepada siswa.
j) Menyelesaikan administrasi kelas secara baik dan teratur.
k) Tidak meninggalkan sekolah tanpa seijin Kepala Sekolah.
l) Tidak mengajar di sekolah lain tanpa ijin pejabat yang berwenang.
m) Melaksanakan ulangan harian minimal tiga kali dalam satu semester dan ulangan umum setiap akhir semester.
n) Tidak merokok selama dalam lingkungan sekolah.
o) Mengisi buku batas pelajaran setiap usia pelajaran.
p) Mengisi buku agenda guru.
q) Berpakaian olahraga selama memberikan pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan.
r) Mempersiapkan dan memeriksa alat yang akan dipergunakan dalam pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan serta mengembalikan ke tempat semula.
s) Mengawasi siswa selama jam istirahat.
t) Mengikuti senam yang dilaksanakan bersama-sama siswa di sekolahnya.
u) Berpakaian rapi dan pantas sesuai peraturan yang berlaku.
v) Mencatat kehadiran siswa setiap hari.
w) Melaksanakan 6 K.
x) Memeriksa kebersihan anak secara berkala.
y) Membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar dan memberikan program pengayaan yang mempunyai kecakapan lebih.
z) Mengatur perpindahan tempat duduk siswa secara berkala.
Menurut buku tersebut, disebutkan bahwa para guru sekolah dasar hanya dapat berdisiplin dengan baik, apabila mereka berada dalam suatu lingkungan kerja yang memuaskan perasaan mereka. Hal itu harus dijamin oleh suatu manajemen pendidikan yang baik, termasuk kepemimpinan Kepala Sekolah yang baik. Dalam penelitian ini, disiplin guru diukur sebagai gambaran loyalitas bawahan, yang dilandasi adanya kesadaran dan tanggung jawab terhadap tugas secara rasional, cermat, dan tertib yang diukur dari beberapa indikator, antara lain:
1) Kehadiran guru pada hari-hari kerja;
2) Ketepatan waktu masuk dan pulang kerja;
3) Ketaatan guru terhadap peraturan-peraturan, prosedur kerja yang berlaku;
4) Melaksanakan segala perintah atasannya;
5) Mentaati jam kerja yang telah ditentukan;
6) Melaksanakan tugas dan kewajiban yang dibebankan kepada guru; dan
7) Bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat.


Ditulis oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
http://kabar-pendidikan.blogspot.com

Friday, May 6, 2011

Pengertian dan Hakikat Disiplin Belajar

Pengertian dan Hakikat Disiplin Belajar

Disiplin belajar adalah predis posisi (kecenderungan) suatu sikap mental untuk mematuhi aturan, tata tertib, dan sekaligus mengendalikan diri, menyesuaikan diri terhadap aturan-aturan yang berasal dari luar sekalipun yang mengekang dan menunjukkan kesadaran akan tanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban (Agus, 1987). Jika dimengerti tentang disiplin tersebut menyebabkan orang menjadi tertekan, beku tidak mempunyai insiatif, dan menimbulkan efek yang negatif, bagi perkembangan jiwa anak. Bahkan ada yang menganggap bahwa disiplin belajar sebagai suatu proses dan latihan belajar yang bersangkut paut dengan pertumbuhan dan perkembangan, seseorang telah dikatakan berhasil mempelajari atau ia berhasil mengikuti dengan sendirinya proses disiplin tersebut. Degunarso (1986). Proses disiplin belajar dilalui seseorang melalui tahapan latihan atau belajar. Disiplin belajar awalnya memang berat tapi bila kita sudah berhasil mempelajari atau berlatih, kita akan dapat mengikuti dengan sendirinya tanpa merasa tertekan.

Fungsi dan Tujuan Disiplin Belajar

Fungsi utama disiplin belajar adalah mengajar mengendalikan diri dengan mudah, menghormati dan mentaati peraturan berkaitan dengan hal tersebut diatas menerangkan sebagai berikut: (a) Menerapkan pengetahuan dan pengertian sosial antara lain mengenal hak milik orang lain;. (b) Mengerti dan segera menurut untuk menjalankan kewajiban dan merasa mengerti larangan-larangan (c) Mengerti tingkah laku yang baik dan tidak baik (d) Belajar mengendalikan diri, keinginan dan berbuat sesuatu tanpa merasa terancam oleh hukuman. e. Mengorbankan kesenangan sendiri tanpa peringatan dari orang lain (Singgi, 1985). Jadi dalam menanamkan pendidikan pada anak perlu menanamkan pendidikan kedisiplinan, artinya menumbuhkan dan mengembangkan pengertian-pengertian yang berasal dari luar yang merupakan proses untuk melatih dan mengajarkan anak bersikap dan bertingkah laku sesuai harapan.

Perkembangan Disiplin Belajar
Telah diketahui bahwa perkembangan disiplin belajar anak bukan merupakan sesuatu yang terjadi kebetulan melainkan membutuhkan waktu cukup lama untuk berkembang. Dalam hal ini Singgih (1985) mengemukakan lima tahapan antara lain : (a) Pada tahapan pertama disiplin belajar dimulai seseorang untuk menghindari hukuman; (b) Pada perkembangan tahap kedua, disiplin belajar diwujudkan hanya untuk membuat atau mendapatkan imbalan; (c) Pada tahap ketiga, disiplin belajar dijalankan demi disiplin belajar atau aturan itu sendiri; (d) Pada tahap keempat, disiplin belajar diterapkan berdasarkan kesadaran, bahwa untuk hidup bermasyarakat perlu mengikuti peraturan yang dilandasi oleh kepentingan pribadi atau kepentingan perorangan; (e) Pada tahap kelima, tahapan disiplin belajar ini dianggap tahapan yang paling tinggi atau sempurna di antara yang lain dimana sikap disiplin belajar sudah diwujudkan oleh kebutuhan informal dari dalam dari sendiri (Singgih,1987).

Ditulis Oleh: M.Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang
--

Tuesday, May 3, 2011

Sikap Terhadap Pelajaran Matematika

Sikap Terhadap Pelajaran Matematika

Sikap siswa terhadap matematika sangat beragam sekali sesuai dengan unsur sikap yang membangunnya. Unsur kognitif seorang siswa terhadap matematika tergantung dari pelajaran matematika di SMP yang banyak jenisnya, sedangkan unsur efektif adalah ada yang merasa senang atau tidak senang terhadap matematika tertentu. Tetapi ada juga jenis matematika. Hal ini menyebabkan kecenderungan belajar siswa tidak sama, ada yang belajar dengan konsentrasi ada yang belajar dengan malas pada materi yang sama.

Ada sikap siswa yang negatif terhadap matematika tersebut sebenarnya dapat diubah ke arah sikap yang positif, karena sikap terbentuk dari hasil belajar seperti yang dikemukakan oleh Mar’at (1982) bahwa sikap lebih dipandang sebagai hasil perkembangan atau sesuatu yang diturunkan. Sebagai hasil belajar sikap dapat diubah diacuhkan atau dikembangkan seperti semula walaupun memerlukan waktu yang cukup lama.

Lebih lanjut Vassen (1986)mengatakan dalam proses belajar seseorang selalu saling berhubungan antara sikap dengan proses pelajaran. Sehingga diharapkan pada akhir proses pelajaran terjadi perubahan sikap para pelajar. Sedangkan Moller (dalam Vassen,1986) mengatakan perubahan sikap terjadi dalam tiga jangkauan yaitu dalam jangkauan pengamatan, ingatan dan pemikiran dalam jangkauan rangsangan, perhatian, penempatan dan penilaian serta jangkauan komponen kognitif afektif dan psikomotorik. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan kemampuan afektif di dalam melakukan penilaian sikap terhadap matematika dengan mengikuti pengertian sikap yang dikemukakan oleh Thurstone yaitu sikap dipandang sebagai derajat afek (perasaan) positif atau negatif yang dihubungkan dengan suatu obyek psikologi tertentu.


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com http://grosirlaptop.blogspot.com

Pengertian dan Ciri-ciri Sikap

Pengertian dan Ciri-ciri Sikap

Faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah sikap. Sikap merupakan suatu yang dipelajari, dan sikap menentukan bagaimana individu beraksi terhadap situasi serta menentukan apa yang akan dicari dalam kehidupannya. Dalam mencari makna yang lengkap tentang sikap, timbul berbagai pendapat yang saling melengkapi seperti yang dikemukakan oleh Warren, Droba dan Allport (dalam Natawidjaya, 1979).

Menurut Warren sikap adalah daya mental yang khusus untuk menanggapi berbagai pengalaman yang dapat mengubah pengalaman-pengalaman itu, atau suatu kesiapan untuk melakukan kegiatan tertentu. Kemudian Droba mengemukakan sikap adalah daya mental manusia untuk bertindak ke arah atau menentang suatu obyek tertentu. Sedangkan Allport merumuskan sikap adalah keadaan siap yang bersifat mental dan netral yang tersusun melalui pengalaman yang mengerahkan pengaruh yang terarah atau dinamik kepada respon yang dilakukan oleh individu terhadap obyek atau situasi yang berhubungan dengan individu yang bersangkutan.

Dari berbagai pengertian sikap tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sikap adalah kesiapan mental individu yang mempengaruhi, mewarnai bahkan menentukan kegiatan individu yang bersangkutan dalam memberikan respon terhadap obyek atau situasi yang mempunyai arti baginya. Kesediaan ini mungkin dinyatakan alam kegiatan atau merupakan kekuatan laten (pandangan) yang kadang-kadang tersalurkan.

Definisi sikap yang telah diuraikan diatas masih bersifat umum dan teoritas, sehingga menimbulkan kesulitan dalam pengukurannya. Beberapa ahli psikologi memandang sikap dari sudut yang lebih sempit agar lebih operasional seperti yang dikemukakan oleh Berkowitz dan Thusrtone (dalam Azwar , 1993). Definisi operasional yang dikemukakan oleh Berkowitz adalah sikap sebagai perasaan mendukung atau memihak, ataupun perasaan mendukung terhadap suatu obyek psikologi.

Kedua definisi diatas tampak mereka memandang sikap merupakan respon evaluatif yang berarti bahwa bentuk respon yang dinyatakan sebagai sikap itu didasari oleh perasaan evaluasi dalam diri individu yaitu individu yang memberi kesimpulan nilai terhadap suatu obyek dalam bentuk baik atau buruk, positif atau negatif, menyenangkan atau tidak menyenangkan yang kemudian mengkristalkan sebagai potensi reaksi terhadap obyek tersebut. Di sini mereka hanya melihat dari segi perasaan saja sedangkan faktor-faktor lain tidak mendapatkan peninjauan.

Comb (dalam Wagito,1987) menghubungkan pengertian sikap dengan motivasi yaitu :
“Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan yang memungkinkan timbulnya motif suatu perbuatan atau tingkah laku. Bila seseorang tidak mempunyai sikap tertentu terhadap suatu kejadian atau keadaan yang ada di luar dirinya, maka orang tersebut tidak akan bergerak motifnya untuk melakukan tindakan atau suatu perbuatan. Sebaliknya bila seseorang mempunyai sikap tertentu maka segala sesuatu menyangkut masalah atau kejadian akan merupakan motif yang dapat menimbulkan tingkah laku atau perbuatan.”

Jika semua pendapat mengenai sikap di atas dibandingkan, maka terlihat bahwa diantara para ahli ada perbedaan dalam meninjau masalah sikap. Misalnya Allport memandang sikap dari kesiapan mental, misalnya melibatkan masalah afek atau perasaan, sedangkan Camb menghubungkan pengertian sikap dengan motivasi dan Warren memandang sikap bukan hanya kesiapan mental tetapi juga merupakan daya mental. Namun demikian dapat disimpulkan ada dalam diri manusia yang dapat mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan.

Di samping mempunyai obyek tertentu sikap juga mempunyai komponen yang membangun sikap. Mann (dalam Azwar, 1988) menjelaskan komponen-komponen sikap sebagai berikut:
“Komponen kognitif berisi persepsi, kepercayaan dan stereotipe yang dimiliki individu terhadap obyek sikap mengenai sesuatu. Komponen afektif merupakan perasaan individu terhadap obyek sikap dan perasaan menyangkut masalah emosional. Komponen tingkah laku berisi tendensi atau kecenderungan bertindak atau bereaksi terhadap sesuatu dengan cara tertentu”.


Sikap selalu berkenaan dengan suatu obyek dan sikap terhadap obyek disertai dengan perasaan positif atau negatif. Orang yang mempunyai sikap positif terhadap suatu obyek yang bernilai dari pandangannya, dan ia akan bersikap negatif terhadap obyek yang dianggap tidak bernilai baginya. Sikap ini kemudian mendasari dan mendorong ke dalam tindakan yang satu sama lainnya berhubungan.

Lebih lanjut Mann (dalam Azwar,1988), menjelaskan:“Sekalipun diasumsikan bahwa sikap merupakan prediasposisi evaluatif yang banyak menentukan bagaimana individu bertindak, akan tetapi sikap dan tindakan seringkali jauh berbeda.. Hal ini karena tindakan nyata ditentukan. Tidak hanya oleh sikap semata, akan tetapi oleh berbagai faktor satu sama lainnya. Disamping itu ternyata untuk sikap lebih bersifat pribadi, sedangkan tindakan karena itu tindakan lebih peka terhadap tekanan-tekanan sosial.”


Sikap individu mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap tingkah laku disebut Natawidjaya (1979) dikatakan sesuai dengan sifat atau ciri-cirinya dari sikap itu sendiri. Sedangkan Pasaribu dan Simanjuntak (1984) membagi ciri sikap tiga golongan yaitu ada yang bersifat khusus bersifat umum dan ada yang merupakan ciri utama sikap. Maksud ciri yang bersifat khusus ialah unsur-unsur sikap (perasaan, keyakinan dan kecenderungan dari sikap adalah: a) Sikap bukan dibawa orang sejak lahir melainkan dibentuk dan dipelajari sepanjang perkembangan hidupnya dalam hubungan dengan obyek; b) Sikap tidak berdiri sendiri melainkan senantiasa mengandung relasi tertentu terhadap obyek; c) Obyek sikap dapat berupa satu hal tertentu, tetapi dapat berupa kumpulan dari hal-hal tersebut; d) Sikap mempunyai segi motivasi dan perasaan sedangkan pada kecakapan arah tujuan. Artinya bahwa efek yang membekas dirasakan terhadap suatu obyek dapat bersifat positif atau negatif.
Setiap unsur sikap dapat muncul dalam keadaan yang berbeda-beda, hal ini disebabkan oleh ciri utama sikap yaitu keseragaman dan valensi atau kekuatan (Natawidjaya, 1970). Selanjutnya Natawidjaya menjelaskan ciri-ciri utama sikap sebagai berikut:
“Sikap berbeda-beda sesuai dengan keseragaman dari unsur-unsur berbeda-beda yang membangunnya. Unsur kognitif dapat berbeda-beda dari jumlah minimal pengetahuan individu yang bersikap tentang objek yang bersangkutan. Dan jumlah pengetahuan yang dimiliki individu tentang obyek itu akan sangat berpengaruh pada keyakinan orang tersebut tentang obyeknya. Unsur perasaan dari sikap juga berbeda yang disertai dengan perasaan positif atau negatif, sampai kepada sikap yang disertai dengan perasaan bermacam-macam. Selanjutnya unsur kecenderungan bertindak dari sikap dapat berbeda-beda.


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber
: www.kabar-pendidikan.blogspot.com,
www.arminaperdana.blogspot.com http://grosirlaptop.blogspot.com

Metode Pengukuran Sikap

Metode Pengukuran Sikap

Salah satu aspek yang paling penting guna memahami sikap adalah pengungkapan atau pengukuran sikap itu sendiri. Untuk melakukan pengukuran sikap disusun skala sikap yang terdiri butir-butir pernyataan yang harus direaksi oleh individu yang diselidiki sikapnya. Skala merupakan alat perasaan seseorang terhadap obyek psikologi.

Untuk menyusun butir-butir pernyataan pada skala sikap ada dua hal yang harus diingat yaitu bentuk luar pernyataan, dan isi butir pernyataan (Arikunto, 1989). Bentuk luar pernyataan meliputi: a) Bahasa harus jelas, tidak mengandung arti ganda; b) Tidak menggunakan kata-kata yang sukar dipahami; c) Menghindari kalimat negatif ganda; d) Menghindari kata-kata yang berlebihan; e) Ada butir positif dan negatif dengan jumlah yang hampir sama, dan disusun secara acak. Sedangkan isi butir pernyataan meliputi: a) Pengukuran harus tertuju kepada obyek sikap; b) Tidak boleh menanyakan hal yang telah lampau, karena sikap terjadi dalam kurun waktu; c) Bukan hal yang memungkinkan dijawab sama oleh semua/ sebagian responden.

Ada beberapa jenis skala sikap diantaranya sikap model Thurstone, Likert, Semantik Diferensial, Guttman dan skala Inkeles. Menurut hasil penelitian terhadap penggunaan berbagai skala tersebut ternyata skala Likert berkorelasi cukup (0,54) dengan tujuan umum yang dirumuskan oleh sekolah (Arikunto, 1989). Dalam penelitian ini menggunakan skala Likert untuk pengukuran derajat persetujuan siswa terhadap pernyataan-pernyataan sikap terhadap matematika dengan mengacu pernyataan-pernyataan sikap terhadap matematika yang disusun oleh Fraser (1981) yang disebut dengan Test of Science Related Attitude (TOSRA).


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com http://grosirlaptop.blogspot.com