Showing posts with label Teori Belajar. Show all posts
Showing posts with label Teori Belajar. Show all posts

Friday, May 6, 2011

Fungsi Cara Belajar

Fungsi Cara Belajar

Dalam setting pembelajaran klasikal, cara belajar pebelajar akan menentukan metode dan prosedur mengajar pembelajar, dan dalam setting pembelajaran individual cara belajar menentukan cara belajar yang berbeda pula. Perbedaan tersebut menunjukkan perbedaan cara termudah seorang pebelajar dalam hal menyerap informasi, mengatur dan mengolahnya. Dengan kata lain, cara belajar perlu diketahui baik oleh pebelajar atau pembelajar, agar mereka sama-sama mengetahui tentang cara termudah untuk menerima informasi, mengolah, menyimpan dan memunculkan kembali saat diperlukan.

a. Cara Belajar menentukan metode dan prosedur mengajar
Metode ceramah lebih disukai oleh pebelajar dengan cara belajar auditorial, metode demonstrasi lebih disukai oleh pebelajar dengan cara belajar visual, sedangkan metode drill (latihan). Begitu pula prosedur pembelajaran dari seorang pembelajar, akan diterima dan dinilai dengan penerimaan dan penilaian yang beragam dari para pebelajarnya. Oleh karena itu, seyogyanyalah pembelajaran menggunakan metode dan prosedur yang bervariasi, agar seluruh pebelajar merasa diperhatikan dan tertentu dalam upaya mencari, menyerap, mengolah dan mengatur informasi (Sastrawijaya, 1988). Dengan mengetahui gaya belajar pebelajar, pembelajar dapat menyesuaikan gaya atau metode mengajar dengan kebutuhan pebelajaran. Misalnya, pembelajar menggunakan berbagai metode mengajar yang berbeda, sehingga para pebelajar memperoleh sesuai dengan cara belajarnya, dan proses pembelajaran berjalan lebih efektif. Untuk dapat memenuhi selera cara belajar para pebelajar, pebelajar seyogyanya menguasai keterampilan menggunakan berbagai metode mengajar dan sanggup menjalankan berbagai peran, seperti peran sebagai ahli isi, ahli perancang pembelajaran, sumber belajar, instruktur, evaluator, dan lain-lainnya. Alangkah baiknya, kalau pembelajar sanggup memilih metode mengajar yang tepat sesuai dengan gaya belajar masing-masing pebelajar, dan sanggup menentukan mana bahan yang dipakai dalam pembelajarna individual dan mana bahan yang dipakai pembelajaran klasikal (Nasution, 1997)

b. Cara belajar termudah untuk pebelajar
Pada Tabel berikut disajikan cara termudah untuk belajar bagi pebelajar dengan bentuk perbandingan.

Tabel 1. Perbandingan Cara Termudah Untuk Belajar Bagi Pebelajar

No

Cara Belajar

Cara Belajar Termudah

1

Visual

Sat mengerjakan sesuatu yang bersifat prosedural, ia lebih suka mengikuti ilustrasi atau membaca instruksi.

Belajar sambil menulis atau coret-coret.

Belajar dengan membuat ikhtisar dan semacamnya

Mengingat dengan mudah apa yang dilihat

Mengingat dengan asosiasi visual

2.

Auditorial

Belajar sambil berbicara sendiri

Ikut seminar atau mendengarkan ceramah

Belajar dengan berdiskusi

Mengingat dengan mudah pa yang didengar dan didiskusikan

Mengingat dengan asosiasi visual belajar dengan bercerita



Ditulis Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang
--
Pengertian Cara Belajar

Pengertian Cara Belajar

Tidak ada suatu metode mengajar pun yang cocok untuk semua pebelajar, karena metode mengajar yang ditentukan haruslah melalui proses pertimbangan atas cara belajar para pebelajarnya. Setiap pebelajar memiliki cara sendiri dalam hal mengolah, menyandi, merasakan atau menerima informasi (pesan pembelajaran). Ada pebelajar lebih menyukai cara visual dan ada yang lebih menyukai cara mendengar. Ada yang lebih suka belajar sendiri, ada yang lebih suka belajar secara kolaborasi atau bersama-sama dan berdiskusi. Ada yang suka menganalisis informasi, ada pula yang senang membuat abstrak garis besar isi bahan. Ada yang lebih menggantungkan diri pada isyarat internal, ada pula yang lebih meyakini isyarat eksternal untuk mengolah sesuatu. Cara yang terus-menerus tetap bagi masing-masing pebelajar ini disebut cara belajar atau learning style. Selayaknyalah cara belajar pebelajar ini dijadikan pertimbangan awal oleh pembelajar (instruktur, dosen, guru) dalam menentukan metode mengajar yang sesuai dengan cara belajar pebelajar.

Berkaitan dengan cara belajar, terdapat sejumlah istilah yang memiliki pengertian yang sama, yaitu learning style (cara belajar), cognitive style (cara kognitif), dan cara belajar kognitif. Istilah terakhir ini dipakai oleh Tresna Sastrawijaya (1988). Namun untuk memperjelas pengertian istilah tersebut: (a) Schunk (1991) mengatakan bahwa: Cognitiv style is stable variation among lerners in ways of perceiving, organizing, processing, and remembering information; (b) Dembo (1981) Cognitive style of learning style is the consistent ways in which and individual responds to a wide range of perceptual and intellectual tasks; Sigel and Cop (1974) State that cognitive style is an integrative concept in that is definition bridges the personality-cognitive dimension of the individual; (c) Nasution (1997), Learning stule : refers to a students consistent way of responding to and using stimuli in the of learning. Cognitive style : cognitive characteristic modes of fungtion in that we reveal throughout perceptual and intellectual activities in highly consistent and pervasive way. Cognitive style is a supordinate construct which Is involved in many cognitive operation, and which accounts for individual differences in a variety of cognitive, perceptual, and personality variables; (d) Sastrawijaya (1988) Cara belajar cognitif adalah cara seseorang yang relatif tetap dan terus menerus dalam hal mengolah, menyandi, menyimpan, merasakan atau menerima informasi; (e) Porter dan Hernacki (2000) cara belajar merupakan gabungan modalitas dan dominasi otak. Modalitas artinya cara termudah bagi seorang untuk menyerap informasi, sedangkan dominasi otak cara seorang dalam mengatur dan mengelolah informasi.
Cara belajar Kinestetik merupakan segala jenis gerak dan emosi, baik yang diciptakan maupun yang diingat. Gerakan, koordinasi, irama, tanggap emosional, dan kenyamanan fisik menonjol di sini. Seorang pembelajaran yang sangat kinestetik, sering melakukan hal-hal berikut :
1. Menyentuh orang dan berdekatan, banyak gerak;
2. Belajar dengan melakukan, menunjuk tulisan saat membaca;
3. Mengingat sambil berjalan dan melihat;
Dari sejumlah definisi tersebut di atas, peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa istilah cognitive style, Learning ataupun cara belajar kognitif, memiliki pengertian yang sama yaitu cara yang relatif tetap dan konsisten yang dilakukan seorang pembelajar dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, cara berfikir, dan cara memecahkan masalahnya. Selanjutnya dalam tesis ini peneliti akan menggunakan cara belajar. Cara belajar yang sangat berperan dalam proses pembelajaran adalah:
a. Visual
Cara belajar ini mengakses citra visual yang diciptakan maupun diingat. Baik berupa warna, hubungan ruang, potret mental, dan gambar sangat dominan dalam cara belajar ini. Dicirikan dengan:
1) Teratur, memperhatikan segala sesuatu, menjaga penampilan;
2) Mengingat dengan gambar, lebih suka membaca daripada dibacakan;
3) Membutuhkan gambaran dan tujuan menyeluruh, menangkap secara detail, dan mengingat apa yang dilihat.
b. Auditorial
Cara belajar ini mengakses segala jenis bunyi dan kata, baik yang diciptakan maupun yang diingat. Musik, nada, irama, rima, dialog internal, dan suara sangat menonjol di sini. Dicirikan dengan:
1) Perhatiannya mudah terpecah;
2) Berbicara dengan pola berirama;
3) Belajar dengan cara mendengar, menggerakkan bibir atau bersuara saat membaca;
4) Berdialog secara internal dan eksternal.


Ditulis Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang
--
Pengertian dan Hakikat Disiplin Belajar

Pengertian dan Hakikat Disiplin Belajar

Disiplin belajar adalah predis posisi (kecenderungan) suatu sikap mental untuk mematuhi aturan, tata tertib, dan sekaligus mengendalikan diri, menyesuaikan diri terhadap aturan-aturan yang berasal dari luar sekalipun yang mengekang dan menunjukkan kesadaran akan tanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban (Agus, 1987). Jika dimengerti tentang disiplin tersebut menyebabkan orang menjadi tertekan, beku tidak mempunyai insiatif, dan menimbulkan efek yang negatif, bagi perkembangan jiwa anak. Bahkan ada yang menganggap bahwa disiplin belajar sebagai suatu proses dan latihan belajar yang bersangkut paut dengan pertumbuhan dan perkembangan, seseorang telah dikatakan berhasil mempelajari atau ia berhasil mengikuti dengan sendirinya proses disiplin tersebut. Degunarso (1986). Proses disiplin belajar dilalui seseorang melalui tahapan latihan atau belajar. Disiplin belajar awalnya memang berat tapi bila kita sudah berhasil mempelajari atau berlatih, kita akan dapat mengikuti dengan sendirinya tanpa merasa tertekan.

Fungsi dan Tujuan Disiplin Belajar

Fungsi utama disiplin belajar adalah mengajar mengendalikan diri dengan mudah, menghormati dan mentaati peraturan berkaitan dengan hal tersebut diatas menerangkan sebagai berikut: (a) Menerapkan pengetahuan dan pengertian sosial antara lain mengenal hak milik orang lain;. (b) Mengerti dan segera menurut untuk menjalankan kewajiban dan merasa mengerti larangan-larangan (c) Mengerti tingkah laku yang baik dan tidak baik (d) Belajar mengendalikan diri, keinginan dan berbuat sesuatu tanpa merasa terancam oleh hukuman. e. Mengorbankan kesenangan sendiri tanpa peringatan dari orang lain (Singgi, 1985). Jadi dalam menanamkan pendidikan pada anak perlu menanamkan pendidikan kedisiplinan, artinya menumbuhkan dan mengembangkan pengertian-pengertian yang berasal dari luar yang merupakan proses untuk melatih dan mengajarkan anak bersikap dan bertingkah laku sesuai harapan.

Perkembangan Disiplin Belajar
Telah diketahui bahwa perkembangan disiplin belajar anak bukan merupakan sesuatu yang terjadi kebetulan melainkan membutuhkan waktu cukup lama untuk berkembang. Dalam hal ini Singgih (1985) mengemukakan lima tahapan antara lain : (a) Pada tahapan pertama disiplin belajar dimulai seseorang untuk menghindari hukuman; (b) Pada perkembangan tahap kedua, disiplin belajar diwujudkan hanya untuk membuat atau mendapatkan imbalan; (c) Pada tahap ketiga, disiplin belajar dijalankan demi disiplin belajar atau aturan itu sendiri; (d) Pada tahap keempat, disiplin belajar diterapkan berdasarkan kesadaran, bahwa untuk hidup bermasyarakat perlu mengikuti peraturan yang dilandasi oleh kepentingan pribadi atau kepentingan perorangan; (e) Pada tahap kelima, tahapan disiplin belajar ini dianggap tahapan yang paling tinggi atau sempurna di antara yang lain dimana sikap disiplin belajar sudah diwujudkan oleh kebutuhan informal dari dalam dari sendiri (Singgih,1987).

Ditulis Oleh: M.Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang
--

Tuesday, May 3, 2011

Pengertian Kebiasaan Belajar

Pengertian Kebiasaan Belajar


Kebiasaan adalah barang apa yang telah biasa dilakukan (Wojowasito, 1972). Theresia (dalam Nurhayati, 1990) mengatakan kebiasaan adalah suatu perilaku yang merupakan kebiasaan yang akhirnya menjadi otomatis dan tidak membutuhkan pemikiran si pelaku, sehingga si pelaku dapat memikirkan hal-hal lain yang lebih menarik ketika ia sedang berperilaku yang merupakan kebiasaan tersebut. Istilah belajar menunjukkan pada kegiatan dan peranan peserta didik yang menerima pelajaran atau belajar yang artinya suatu kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan atau ketrampilan mengenai suatu pekerjaan yang dapat dicapai melalui proses berpikir atau dengan cara melakukan praktek.

Hakekat belajar adalah masalah setiap orang. Semua kecakapan, ketrampilan, pengetahuan, kebiasaan, kegemaran dan sikap manusia berkembang karena proses yang mengakibatkan beberapa perubahan yang secara relatif tetap dalam berperilaku yaitu dalam berpikir, merasa dan melakukan. Oleh karenanya belajar harus diorganisir dalam arti bahwa peserta didik menerimanya sebagai suatu pekerjaan nyata bermanfaat karena pada dasarnya belajar merupakan usaha mencari dan menemukan makna yang dipelajarinya.

Surachmat (1982) mengatakan berhasil tidaknya seseorang dalam belajar ditentukan oleh mantap dan tidaknya cara belajar yang digunakan. Sedangkan Mouly (dalam Nurhakiki, 1989) mengemukakan cara seseorang untuk kegiatan belajar inilah yang akhirnya membentuk kebiasaan belajar. Kebiasaan belajar merupakan hal yang penting dalam menentukan efektif tidaknya usaha belajar yang dilakukan.

Kebiasaan belajar bukan bakat alamiah atau bawaan dari lahir. Setiap orang dapat membentuk sendiri kebiasaan itu. Kebiasaan belajar yang baik timbul didalam diri kita jika kita berniat melakukannya. Tentunya matematika itu harus dilaksanakan dalam perbuatan yang berulang-ulang setiap hari sehingga menjadi suatu kebiasaan. Gie (1986) menyarankan agar seseorang dapat belajar dengan baik, dia harus mengetahui metode, teknik, kemahiran atau cara-cara belajar yang efisien. Kemudian pengetahuan itu dipraktekkan setiap hari sampai menjadi kebiasaan dalam belajar.

Tidak ada individu yang tepat sama dengan individu yang lainnya, sehingga kegiatan belajar yang dilakukan oleh individu yang satu dengan yang lainnya juga tidak sama. Pemakaian metode belajarpun berbeda ada yang menyukai belajar sendiri, ada pula yang menyukai belajar kelompok. Cara seseorang melakukan kegiatan belajar akhirnya akan membentuk kebiasaan belajar inilah yang merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan efektif tidaknya usaha belajar yang dilakukan.


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com http://grosirlaptop.blogspot.com